SniRa 2012
Gagasan pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura sudah berusia lebih dari 60 tahun. Sebuah versi mencatat bahwa gagasan ini pertama kali disampaikan oleh H. M. Noer saat masih menjabat sebagai Bupati Bangkalan di tahun 50-an. Gagasan tersebut menjadi lebih nyata saat konsep Tri Nusa Bima Sakti dirumuskan oleh Prof. Sedyatmo dan didorong melalui kebijakan pemerintah sejak 1986. Pembangunan jembatan dinilai strategis untuk membuka keterisolasian Madura yang dinilai sebagai akar permasalahan tertinggalnya perekonomian Madura dibanding daerah lainnya di Jawa Timur serta dapat memicu pertumbuhan ekonomi di wilayah Madura. Industrialisasi di Madura yang dijadikan satu paket dengan pembangunan jembatan diproyeksi dapat menjadi solusi elegan yang menguntungkan kawasan GERBANGKERTOSUSILA. Diharapkan, keterbatasan industri di wilayah GERBANGKERTOSUSILA minus Bangkalan dapat dicover oleh lahan kurang produktif yang cukup luas ada di Madura. Industrialisasi diharapkan dapat menciptakan banyak lapangan kerja dan menimbulkan efek multiplier yang dapat memacu akselerasi pertumbuhan ekonomi seluruh kawasan pada umumnya dan Madura pada khususnya.
Hingga kini, setelah 3 tahun jembatan beroperasi, berbagai kendala teknis maupun non teknis menjadikan industrialisasi masih berada di dalam tataran konsep dan rencana. Sehingga kemakmuran dan peningkatan taraf ekonomi masyarakat Madura yang diharap-harapkan masih belum dirasakan secara signifikan. Sampai saat ini, dari lima daerah tingkat dua yang masuk dalam kategori tertinggal, tiga diantaranya adalah Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. PDRB empat kabupaten di Madura berada di bawah PDRB mayoritas daerah lain di Jawa Timur maupun PDRB propinsi. Index pembangunan manusia di empat kabupaten di Madura juga menempati posisi-posisi terbawah. Ironisnya, topik khusus mengenai industrialisasi dari berbagai aspek mengalami penurunan intensitas (Hartarto, 2004) padahal realisasi industrialisasi di Madura sudah di ambang pintu. Sehingga diskusi tentang pemikiran-pemikiran, konsep ataupun best practice yang dapat digunakan untuk membantu formulasi kebijakan industrialisasi di Madura perlu diintensifkan lagi.
Oleh karena itu, Laboratorium Sistem Manufaktur – Program Studi Teknik Industri – Universitas Trunojoyo Madura menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema ” Pengembangan kawasan industri dan sistem inovasi yang berkelanjutan untuk peningkatan daya saing regional: riset, konsep, pemikiran dan best practice dalam menyongsong industrialisasi di Madura ”
Sebagai catatan tambahan, meskipun terlilit banyak masalah kesejahteraan, Madura memiliki segudang potensi. Sebut saja pariwisata berbasis tradisi dan kekayaan lokal, beberapa sumber daya alam serta produk-produk unik khas Madura semisal Jamu dan Batik Madura yang sangat terkenal itu. Industrialisasi yang dihartapkan tentu saja bukan industrialisasi yang akan mengikis kekayaan lokal tersebut tetapi yang mampu mendorong dan bersinergi dengannya. Menjadi tantangan untuk para pengambil kebijakan dan akademisi untuk mensinergikan industrialisasi dengan pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang merupakan 98% lebih dari keseluruhan entitas bisnis di Madura. Tantangan ini menjadi semakin kompleks karena Madura bukanlah kawasan yang relatif tidak berpenghuni sebagaimana Batam di awal-awal masa pembangunannya.
Di sisi lain, panitia menyadari bahwa pembahasan topik industrialisasi masih didominasi oleh praktisi dan akademisi dari rumpun disiplin keilmuan ekonomi, perencanaan wilayah serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Kontras dengan hal tersebut, disiplin keilmuan Teknik Industri maupun disiplin keilmuan eksakta lainnya masih kurang intensif dalam memberikan sumbangsih keahlian dan profesinya di dalam topik ini. Padahal sebenarnya dapat digali dari berbagai model, kerangka kerja serta pendekatan disiplin keilmua Teknik yang bisa digunakan semisal metode simulasi, teknik optimisasi, analisis multivariate, penilaian kinerja, project planning, supply chain, manajemen teknologi, manajemen inovasi, sistem inovasi daerah maupun berbagai kompetensi yang lain yang relevan.
Hal ini sangat sejalan dengan perkembangan paradigma pembangunan saat ini yang diarahkan untuk lebih berbasis pada knowledge. Dalam paradigma itu, kekayaan suatu bangsa atau wilayah tidak lagi dapat diukur dari kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduknya semata. Berbagai riset dan kajian telah menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara kemampuan penguasaan iptek suatu bangsa dengan kesejahteraan dan kemakmuran warganya. Oleh karena itu, usaha pembangunan ekonomi tidak lagi bisa dijalankan secara apa adanya, tetapi diperlukan berbagai terobosan paradigmatik maupun praktek pembangunan yang berbasis pada utilisasi iptek secara optimal. Seiring dengan itu, semakin disadari oleh banyak pihak bahwa Indonesia perlu melakukan percepatan dan perluasan pembangunan yang dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
Terkait dengan hal ini, pemerintah telah menyusun suatu master plan pembangunan nasional di dalam dokumen Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dikukuhkan di dalam Perpres Nomor 32 Tahun 2011. Dengan kerangka tersebut, diharapkan bahwa Indonesia dapat menjadi negara maju pada tahun 2025 yang dengan cita-cita mulia bahwa negara dapat menjamin peningkatan dan pemerataan kesejahteraan bagi warganya. Ini tentu saja sangat relevan dengan kondisi Madura yang memerlukan percepatan, perluasan serta pemerataan pembangunan yang mampu menjamin peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, selain seminar dengan berbagai pembicara yang ahli di bidang industrialisasi serta pengembangan sistem inovasi wilayah, diselenggarakan pula seminar Call for Paper untuk merangsang diskursus serta aplikasi disiplin keilmuan eksakta pada umumnya dan disiplin keilmuan Teknik Industri pada khususnya. Diharapkan dapat dihimpun berbagai ide, konsep, hasil kajian ataupun best practice yang secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran dan pembanding menyongsong dilaksanakannya industrialisasi di Madura yang mampu meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan bagi Indonesia pada umumnya Madura pada khususnya.

0 komentar:
Posting Komentar